Opini Saya (Dika)
Maret 13, 2008
“Selama 1,5 bulan atau 6 kali gaji kami belum terima hasil jerih payah itu. Alasan manajemen bahwa kami melakukan absensi dengan tanda tangan tidak dengan sidik jari,” kata salah satu satpam, Riyadi kepada detiksurabaya.com saat berada di perusahaannya Jalan Rungkut Industri I No 8, Kamis (21/2/2008).
Dia menambahkan, absensi dengan tanda tangan itu dilakukan karena absen yang menggunakan sidik jari rusak sejak 28 Desember 2007 lalu. Karena rusak, jelas Hariadi, 10 satpam yang bekerja disarankan untuk membuat absen dengan tanda tangan oleh koordinator satpam bernama Mascan Dian Kituk.
Identitasku
Maret 8, 2008
Nama :Tristya Novrendika
NIMS :L200070007
Kelas : A
Jalan Margomulyo Rusak, Pemkot Seakan Tutup Mata
Februari 21, 2008
Jalan Margomulyo Rusak, Pemkot Seakan Tutup Mata
Pengirim: Fitria Puspa Wulandari – DetikSurabaya
Surabaya – Jalan akses di sekitar Jalan Margomulyo rusak parah dan bergelombang. Selama kurang lebih satu bulan, jalan rusak itu dibiarkan. Dengan rusaknya jalan tersebut, hingga kini Pemkot Surabaya belum melakukan perbaikan.
Mereka seakan tutup mata. Padahal jalan tersebut jalan akses utama menuju kota lain dari arah Surabaya maupun sebaliknya. Dikhawatirkan bila dibiarkan terus korban akan jatuh di jalan rusak dan bergelombang tersebut.
Gaji Dipersulit, Satpam Chiyoda Unjuk Rasa
Februari 21, 2008
Gaji Dipersulit, Satpam Chiyoda Unjuk Rasa
Steven Lenakoly – DetikSurabaya
Surabaya – Satpam PT Sinar Angkasa (Chiyoda) memprotes tindakan manajemen yang belum menggajinya selama 1,5 bulan. Alasannya, manajemen menganggap bahwa absen yang dilakukan secara manual atau tanda tangan tidak sah.
“Selama 1,5 bulan atau 6 kali gaji kami belum terima hasil jerih payah itu. Alasan manajemen bahwa kami melakukan absensi dengan tanda tangan tidak dengan sidik jari,” kata salah satu satpam, Riyadi kepada detiksurabaya.com saat berada di perusahaannya Jalan Rungkut Industri I No 8, Kamis (21/2/2008).
Dia menambahkan, absensi dengan tanda tangan itu dilakukan karena absen yang menggunakan sidik jari rusak sejak 28 Desember 2007 lalu. Karena rusak, jelas Hariadi, 10 satpam yang bekerja disarankan untuk membuat absen dengan tanda tangan oleh koordinator satpam bernama Mascan Dian Kituk.
Naasnya, saat gajian tiba pada 7 Januari hingga sekarang, gaji tersebut tidak juga diberikan.
“Padahal kami sudah kerja 20 tahun dan absensi tanda tangan itu bukan kehendak kami. kenapa kami tidak digaji dan kenapa manajemen tidak percaya dengan kami,” tambahnya.
Aksi protes satpam ini hanya duduk-duduk sambil membentangkan dua poster yang berbunyi,”Jangan Perlakukan Kami Sewenang-Wenang, Berikan Hak-Hak Kami yang Belum Diberikan” dan “20 Tahun Pengabdian Kami, Inikah Balasanmu, Hargailah Jasa-Jasa Kami”.
Aksi mereka belum mendapat respon dari pihak manajemen. Namun selama menunggu penantian, satpam sudah melakukan aksi pertemuan 2 kali tapi menemukan jalan buntu. (fat/fat)
Seorang Nelayan Indramayu Ditelan Ombak Lamongan
Februari 21, 2008
Seorang Nelayan Indramayu Ditelan Ombak Lamongan
Eko Sujarwo – DetikSurabaya
Lamongan – Nelayan asal Indramayu, Jawa Barat, yang hilang terseret arus di perairan Lamongan kemarin belum ditemukan.
“Hingga kini upaya pencarian masih dilakukan. Tim Polisi Air dan Udara (Polairud) Lamongan bekerja sama dengan nelayan untuk mencari nelayan itu,” kata salah seorang petugas Polairut, Bripda Firman kepada detiksurabaya.com, Kamis (21/2/2008).
Bripda Firman menambahkan, karena cuaca masih buruk disertai gelombang tinggi, maka pencarian hanya dilakukan di tepi pantai. Tim pencarian tidak berani melakukan pencarian hingga ke laut lepas.
Dijelaskan oleh Firman, nelayan asal Indramayu yang hilang bernama Rustomo (25) warga Kecamatan Kandang Awur, Indramayu, Jawa barat. Rustomo merupakan satu dari 8 awak Kapal Motor (KM) Trimina Rejeki, yang mencoba menyelamatkan diri dari amukan gelombang pasang di tengah Laut Jawa.
Nahkoda KM Trimina Rejeki, Charmin mengatakan sebelum hilang, Rustomo sedang menurunkan jangkar kapalnya bersama seorang awak lainnya namun tiba-tiba Rustomo terseret ombak. “Setelah itu dia tidak muncul lagi ke permukaan,” ujar Charmin seraya mengatakan jika satu orang lainnya berhasil diselamatkan nelayan setempat.
Charmin menuturkan, kapal yang dikemudikannya pecah setelah menghantam karang yang berada tak jauh dari Pelabuhan Ikan Brondong. “Makanya kami memutuskan untuk menepi,” tuturnya.
Untuk diketahui, KM Trimina Rejeki dan Kapal Motor Trimina Lestari, merupakan dua rombongan nelayan yang baru saja meninggalkan Kepulauan Bawean yang akan menuju Je Juwana, Pati, Jawa Tengah. Karena terhantam ombak dan kapal bocor, mereka memutuskan menepi untuk memperbaiki kapal. (fat/fat)
Penertiban PKL di Dupak Diwarnai Protes
Februari 21, 2008
Penertiban PKL di Dupak Diwarnai Protes
Irawulan – DetikSurabaya
Surabaya – Penertiban pedagang kaki lima (PKL) yang dilakukan Satpol PP Kecamatan Bubutan di sepanjang Jalan Dupak diwarnai protes, Kamis (21/2/2008).
Pedagang di Jalan Dupak menolak lapak-lapak tersebut dibawa oleh petugas. Namun puluhan petugas tetap mengangkut puluhan lapak dan di masukkan ke dua truk yang sudah disediakan.
“Pak…Lapak saya jangan dibawa. Ini sumber penghidupan keluarga saya,” kata salah satu pedagang, Ratmi kepada petugas dengan memelas sembari berusaha mempertahankan lapak dagangannya, Kamis (21/2/2008).
Permintaan Ratmi itu tidak digubris oleh petugas. Petugas justru menyuruh pedagang untuk datang ke kantor Satpol PP Bubutan. “Wis bu di kantor ae, nanti saja urusannya. Sing penting iki bersih (Sudah bu di kantor saja, urusan di sana. Yang penting jalan ini bersih),” teriak salah satu petugas Satpol PP.
Meski puluhan pedagang tetap ngotot mempertahankan lapak-lapaknya, akhirnya mereka pun menyerah. Pedagang hanya melihat saat petugas memasukkan semua barang-barang miliknya.
Sementara itu saat Satpol PP menuju kawasan Jalan Demak, tiba-tiba celinguan. Karena jalan-jalan yang biasa penuh dengan PKL menjadi bersih. Rupanya, pedagang terlebih dahulu membereskan lapak dan perlengkapannya serta memilih menutup dagangannya.
Melihat PKL Jalan Demak bersih oleh, petugas yang membawa 4 pick up dan 2 truk meneruskan perjalanannya ke beberapa kawasan Bubutan yang masih dipenuhi PKL. (fat/fat)
Akibat Calo SPP, Universitas Jember Rugi Rp 2 Miliar
Februari 21, 2008
Kamis, 21/02/2008 11:12 WIB
Akibat Calo SPP, Universitas Jember Rugi Rp 2 Miliar
Ryma S – DetikSurabaya
Jember – Adanya praktek percaloan pembayaran SPP di Universitas Jember (Unej), pihak rektorat mengaku telah dirugikan sebanyak Rp 2 miliar. Praktek percaloan yang melibatkan dua mahasiswa ini telah mengelabui sedikitnya 500 mahasiswa dari tiga fakultas.
Hingga kini, pihak universitas masih mengusut kasus percaloan dan penipuan SPP itu.
Dua mahasiswa, diduga terlibat dalam aksi penipun ratusan mahasiswa di fakultas Hukum, Ekonomi dan Sastra. Dua mahasiswa, yang disebut-sebut sebagai ‘pengepul’ pembayaran SPP melalui jalur khusus itu adalah mahasiswa Fakultas Hukum dan mahasiswa Fakultas Sastra.
Aksi yang memakan kerugian sangat besar ini, diperkirakan terjadi sejak lima tahun silam. Uang pembayaran SPP para mahasiswa yang dititipkan ke dua pelaku dan disetor ke Bank Jatim, namun terdeteksi belum masuk ke rekening pihak universitas.
Vita. salah seorang mahasiswa Fakultas Hukum Unej, yang menjadi korban penipuan mengungkapkan, kasus tadi terungkap setelah namanya bersama 170 mahasiswa lain dipampang dalam sebuah pengumuman dari Rektorat Unej. Pengumuman itu menyatakan, mereka belum membayar SPP.
Padahal, ia telah membayarnya dengan cara menitipkan kepada seorang kawan. Bahkan Vita mengaku mendapatkan subsidi sebesar Rp 50.000, dari jumlah sebesar Rp. 500.000, yang harus dibayarnya. Vita tidak menaruh curiga dengan pembayaran yang lebih murah itu, karena ia juga mendapatkan slip pembayaran SPP, dengan bukti paraf dan stempel aktifasi yang sama, dengan kawan lainya yang membayar melalui jalur resmi.
Akibat aksi penipuan tadi, dirinya dan sejumlah mahasiswa lain, terancam diskors atau dipotong jumlah mata kuliah yang seharusnya ditempuh. Sebab pihak universitas merasa belum menerima uang SPP ratusan mahasiswa itu.
Sementara itu, Pembantu Rektor II Universitas Jember, Agus Budihardjo merinci, pihaknya telah dirugikan sedikitnya Rp 2 milyar, akibat praktek ilegal itu. Terdapat sedikitnya 500 mahasiswa dari tiga fakultas yang tidak membayar SPP, tetapi berhasil melakukan aktifasi.
“Setelah ada pengecekan, ternyata mahasiswa-mahasiswa tadi, dapat menunjukkan slip pembayaran, ternyata slip itu palsu dan uang belum masuk ke rekening rektor di Bank Jatim,” ungkap Agus Budihardjo, Kamis (21/2/2008).
Karena itu, Agus menandaskan, sejauh ini, pihaknya tengah menyidik kasus ini. Sejumlah langkah yang dilakukan, adalah dengan meminta keterangan sejumlah mahasiwa yang menjadi korban dan pengepulnya. Ditanya tentang keterlibatan oknum Bank Jatim, Agus menyatakan, belum berani mengambil kesimpulan ke arah itu karena belum bisa dibuktikan keterlibatan mereka.
(bdh/bdh)
Percobaan 1
Februari 21, 2008
Hari ini aku belajar membuat blog.dan ini cm sekedar ngetes